Jumat | 07 Agustus 2026 16:15:58 WIB
RAGAM INDONESIA
Grebeg Maulud Keraton Kasunanan Surakarta, Digelar 26 Agustus 2026
RAKYATNASIONAL.COM,- Grebeg Maulud Keraton Kasunanan Surakarta, Digelar 26 Agustus 2026
Grebeg Maulud di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tahun 2026 diselenggarakan sebagai Puncak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara inti berupa "KIRAB GUNUNGAN" hasil bumi dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 26 Agustus 2026, yang didahului oleh rangkaian tradisi Sekaten seperti pembunyian Gamelan Pusaka Miyos Gangsa.
Rangkaian Acara UtamaPembukaan Sekaten dan Miyos Gangsa: Dimulai sejak pertengahan Agustus 2026.Pembunyian Gamelan Pusaka: Berlangsung setiap hari di lingkungan keraton hingga menjelang puncak acara.Puncak Grebeg Maulud: Kirab dan perebutan gunungan oleh warga pada 26 Agustus 2026.
Makna Tradisi Bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki hasil bumi. Sarana pelestarian budaya dan syiar Islam yang diwariskan secara turun-temurun.
Rangkaian Sekaten di kawasan Alun-Alun Selatan telah dimulai lebih awal. Kerabat Keraton Solo sekaligus pengelola Sekaten Alun-Alun Selatan, GKR Timoer Rumbai Dewayani, mengatakan pasar malam telah dibuka sejak Sabtu (25/7/2026) dan dijadwalkan berlangsung hingga 5 September 2026.
Menurut Gusti Timoer, prosesi adat Sekaten akan diawali dengan Miyos Gangsa pada 19 Agustus 2026.
"Rangkaian upacara Sekatennya sendiri akan dimulai seminggu sebelum [keluarnya] gunungan. Nanti akan ada jamasan terlebih dahulu, kemudian gamelan akan diarak dan dikeluarkan menuju Masjid Agung," paparnya.
Setelah itu, gamelan pusaka Keraton akan ditabuh selama sepekan sebagai bagian dari tradisi Sekaten. Rangkaian peringatan kemudian dilanjutkan dengan prosesi Grebeg Maulud yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Agustus 2026.
Dalam prosesi tersebut, Keraton akan mengeluarkan gunungan hasil bumi yang diperebutkan masyarakat sebagai simbol rasa syukur sekaligus harapan memperoleh berkah.
Gusti Timoer menjelaskan tradisi Sekaten sejak dahulu menjadi media syiar Islam yang berkembang pada masa Sultan Agung. Saat itu, bunyi gamelan di Masjid Agung digunakan untuk menarik masyarakat berkumpul sebelum diperkenalkan dengan ajaran Islam.
"Jadi, kami sebagai pewaris atau keturunan dari para sesepuh leluhur inilah yang wajib melestarikan hal itu. Ini memang upacara adat kami sejak dulu yang wajib dijaga kelestariannya," katanya.(Wartadipuro)
Grebeg Maulud di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tahun 2026 diselenggarakan sebagai Puncak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara inti berupa "KIRAB GUNUNGAN" hasil bumi dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 26 Agustus 2026, yang didahului oleh rangkaian tradisi Sekaten seperti pembunyian Gamelan Pusaka Miyos Gangsa.
Rangkaian Acara UtamaPembukaan Sekaten dan Miyos Gangsa: Dimulai sejak pertengahan Agustus 2026.Pembunyian Gamelan Pusaka: Berlangsung setiap hari di lingkungan keraton hingga menjelang puncak acara.Puncak Grebeg Maulud: Kirab dan perebutan gunungan oleh warga pada 26 Agustus 2026.
Makna Tradisi Bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki hasil bumi. Sarana pelestarian budaya dan syiar Islam yang diwariskan secara turun-temurun.
Rangkaian Sekaten di kawasan Alun-Alun Selatan telah dimulai lebih awal. Kerabat Keraton Solo sekaligus pengelola Sekaten Alun-Alun Selatan, GKR Timoer Rumbai Dewayani, mengatakan pasar malam telah dibuka sejak Sabtu (25/7/2026) dan dijadwalkan berlangsung hingga 5 September 2026.
Menurut Gusti Timoer, prosesi adat Sekaten akan diawali dengan Miyos Gangsa pada 19 Agustus 2026.
"Rangkaian upacara Sekatennya sendiri akan dimulai seminggu sebelum [keluarnya] gunungan. Nanti akan ada jamasan terlebih dahulu, kemudian gamelan akan diarak dan dikeluarkan menuju Masjid Agung," paparnya.
Setelah itu, gamelan pusaka Keraton akan ditabuh selama sepekan sebagai bagian dari tradisi Sekaten. Rangkaian peringatan kemudian dilanjutkan dengan prosesi Grebeg Maulud yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Agustus 2026.
Dalam prosesi tersebut, Keraton akan mengeluarkan gunungan hasil bumi yang diperebutkan masyarakat sebagai simbol rasa syukur sekaligus harapan memperoleh berkah.
Gusti Timoer menjelaskan tradisi Sekaten sejak dahulu menjadi media syiar Islam yang berkembang pada masa Sultan Agung. Saat itu, bunyi gamelan di Masjid Agung digunakan untuk menarik masyarakat berkumpul sebelum diperkenalkan dengan ajaran Islam.
"Jadi, kami sebagai pewaris atau keturunan dari para sesepuh leluhur inilah yang wajib melestarikan hal itu. Ini memang upacara adat kami sejak dulu yang wajib dijaga kelestariannya," katanya.(Wartadipuro)



















